MAN 3 Maluku Tengah menyelenggarakan Workshop Moderasi Beragama dengan tema “Merajut Harmoni Sosial melalui Sinergitas Moderasi Beragama dan Ekoteologi dalam Bingkai Kearifan Lokal” yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada 6–7 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan La Rintinga, S.Pd., M.Sc. sebagai pemateri utama.
Workshop ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memperkuat pemahaman warga madrasah tentang pentingnya moderasi beragama, pelestarian lingkungan, serta penguatan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan tersebut diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan MAN 3 Maluku Tengah yang antusias mengikuti seluruh rangkaian materi dan diskusi.
Dalam pemaparannya, La Rintinga menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan kunci dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya konsep ekoteologi, yaitu kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia. Nilai-nilai tersebut dipadukan dengan kearifan lokal yang telah lama hidup dan berkembang dalam masyarakat Maluku sebagai fondasi dalam membangun kehidupan yang damai dan berkelanjutan.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh berbagai materi, berdiskusi secara aktif, serta berbagi pengalaman mengenai praktik moderasi beragama dan kepedulian lingkungan yang dapat diterapkan baik di lingkungan madrasah maupun masyarakat. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa harmoni sosial dapat terwujud melalui sinergi antara sikap toleran, penghargaan terhadap perbedaan, pelestarian alam, dan penguatan budaya lokal.
Workshop yang berlangsung di MAN 3 Maluku Tengah ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran seluruh warga madrasah untuk menjadi agen moderasi beragama dan pelestarian lingkungan. Dengan demikian, nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan kepedulian terhadap alam dapat terus tumbuh serta menjadi bagian dari karakter generasi muda yang berakhlak, inklusif, dan cinta terhadap budaya lokal.